Sunday, August 22, 2010

Cerita/Dongeng Sebagai Salah Satu Media Untuk Menanamkan Nilai Kebangsaan Pada Anak Usia Dini

Arus globalisasi dan modernisasi membuat generasi bangsa hanyut dalam gaya hidup dan sikap individualis, acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitar dan tidak peduli dengan tangung jawab moral. Banyak generasi muda yang hanyut dalam gemerlap dunia, mengisi waktu untuk kesenangan pribadi tanpa memikirkan masa depannya. Lebih menyedihkan lagi jika mereka lupa bahwa sebenarnya mereka adalah sumber kekuatan moral yang diharapkan agar selalu menjunjung kebenaran sesuai hati nurani dan berjiwa patriotisme. 
Berbagai kalangan mengatakan bahwa dewasa ini kecintaan dan kebanggaan kepada bangsa dan tanah air Indonesia semakin memudar, bahkan rasa Nasionalisme dikhawatirkan bisa lenyap seiring dengan semakin modernnya suatu negara.
Wawasan kebangsaan masyarakat yang tinggi sangat diperlukan  oleh bangsa Indonesia apabila berkaca pada Negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, Korea, Singapura maupun Jepang. Hal ini dapat dilihat bagaimana cara bekerja mereka yang sangat tinggi kinerjanya dibandingkan dengan bangsa Indonseia.
Apabila penanaman nilai-nilai kebangsaan dilakukan secara  teratur dan berlanjut maka akan nampak hasilnya beberapa tahun mendatang dengan indikasi kinerja bangsa Indonesia yang sejajar dengan bangsa lain seperti adanya transparansi, tidak adanya kolusi, korupsi dan nepotisme. Seperti yang sekarang terjadi masih dapat dilihat di media cetak dan elektronik  yang mengemuka dengan adanya kasus-kasus korupsi, kekerasan masyarakat dan berbagai pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat. Apabila wawasan kebangsaan sudah tinggi maka hal ini akan tidak terjadi karena adanya rasa nasionalisme yang tinggi, budaya malu, rasa harga diri yang tinggi, dedikasi yang tinggi serta semangat kerja yang tinggi.
Mengacu dari permasalahan di atas, menanamkan nilai-nilai kebangsaan sejak dini merupakan salah satu upaya dalam mengurangi kemerosotan moral generasi bangsa dan mengembalikan jati diri bangsa. Karena pada rentang usia 0 – 8 tahun anak mengalami masa keemasan, yaitu suatu masa dimana anak mulai peka dan sensitif terhadap stimulasi yang diberikan oleh lingkungan dan siap merespon stimulasi tersebut. Insan yang cerdas dan kompetitif akan terwujud bila pendidikan dimulai sedini mugkin secara terarah, terpadu dan menyeluruh melalui berbagai upaya dengan tujuan mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.
            Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang bertujuan untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki anak melalui pemberian rangsangan dari orang dewasa dan lingkungan sekitarnya.            Mengutip dari Naskah Akademik Kurikulum program D2 PGTK DIKTI DEPDIKNAS, Yuliani dan Bambang di dalam Mozaik Teknologi Pendidikan (2004; 354) menyebutkan bahwa pendidikan anak usia dini memiliki beberapa fungsi sebagai berikut : pertama, fungsi adaptasi dan sosialisasi, yakni berperan di dalam membantu anak melakukan penyesuaian diri dengan berbagai kondisi lingkungan serta menyesuaikan diri dengan keadaan dalam dirinya sendiri dan juga membantu anak agar ia memiliki ketrampilan-ketrampilan sosial yang berguna dalam pergaulannya di masyarakat; kedua, fungsi perkembangan yang berkaitan dengan pendidikan anak usia dini dalam mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki oleh anak. Setiap unsur potensi yang dimiliki membutuhkan suatu situasi dan lingkungan dan yang dapat menumbuhkembangakan potensi tersebut ke arah perkembangan yang optimal sehingga menjadi potensi yang bermanfaat bagi anak itu sendiri dan lingkungannya; ketiga, fungsi bermain, yaitu peranan pendidikan anak usia dini dalam memberikan kesempatan anak untuk bermain. Melalui bermain anak akan senang dan gembira mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya; keempat, fungsi ekonomik, yakni bahwa pendidikan yang terencana pada anak usia dini merupakan investasi jangka panjang yang menguntungkan pada setiap rentang perkembangan selanjutnya. Terlebih lagi investasi yang dilakukan berada pada mas keemasan  (the golden age) yang akan memberikan keuntungan yang berlipat ganda. Secara ekonomik, investasi yang ditanamkan melalui pemenuhan fondasi sikap, perilaku dan berbagai fungsi mental pada anak usia dini akan menjadi penopang kokoh bagi pertumbuhan dan perkembangan di masa berikutnya. Melalui fondasi inilah anak-anak akan menghadapi masa depannya dengan perbekalan yang cukup kuat dan banyak sehingga ia dapat mengatasi berbagai permasalahan yang akan dihadapinya.
Agar terwujud konsep diri yang positif perlu diciptakan media interaksi yang mendukung penyelenggaraan pendidikan anak usia dini. Salah satu media  yang efektif untuk itu adalah mendongeng atau bercerita. Mendongeng atau bercerita bagi anak usia dini bukan sekedar hiburan tapi mempunyai makna tentang pengenalan lingkungan, budi pekerti, serta mendorong terbukanya cakrawala pemikiran anak sesuai pertumbuhan mental anak (Priyono, 2001). Lebih lanjut Priyono menjelaskan bahwa mendongeng atau bercerita dapat merangsang dan menumbuhkan imajinasi dan daya fantasi anak secara wajar, mengembangkan daya penalaran, sikap kritis serta kreatif, menumbuhkan sikap kepedulian terhadap nilai-nalai luhur budaya bangsa, membedakan perbuatan baik yang perlu dicontoh dan perbuatan buruk yang tidak perlu dicontoh, menanamkan rasa hormat, serta mendorong terciptanya kepercayaan diri dan sikap terpuji pada anak-anak.  
Mendongeng atau bercerita merupakan suatu proses interaksi sosial yang amat luwes mempunyai makna yang amat spesifik bagi penutur dan pendengarnya. Pada kegiatan mendongeng atau bercerita terdapat kesungguhan penutur dalam menyampaikan pesan dan kesungguhan pendengar dalam menyimak pesan yang dituturkan. Penyampaian dongeng atau cerita dapat dikemas dengan suasana humor yang menyenangkan, sehingga pesan yang disampaikan penutur akan mudah difahami dan anak menjadi lebih terkesan. Pesan dalam dongeng atau cerita  yang disampaikan dengan menyenangkan akan tersimpan dalam memori anak dan menjadi long term memory
Yang menjadi tugas kita bersama sebagai orang tua, pendidik dan masyarakat adalah bagaimana kita bisa menambah khasanah dongeng/cerita bagi anak usia dini di Indonesia baik secara kuantitas maupun kualitas, sehingga dapat terwujud anak-anak yang mengetahui mencintai nilai-nilai luhur budaya bangsanya, anak-anak yang kelak menjadi manusia-manusia yang memiliki identitas di masyarakat lokalnya dan sekaligus memiliki wawasan glonbal untuk membangun dunia bersama, dan terwujud persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia.

No comments:

Post a Comment